Saturday, January 12, 2013

IJINKAN AKU, TUHAN...

kutahu kau menyayangiku…
tapi haruskah dengan memintaku merajut angin?

kuyakin kau mencintaiku…
tapi haruskah dengan memintaku menyulam air?

kalau kau memang menyayangiku…
kenapa kau ciptakan air mata yang kuuntai setiap malam?

kalau kau memang mencintaiku…
kenapa kau ciptakan perih yang kujelang setiap petang?

ataukah kau membenciku?
lantas kenapa kau tetap biarkan aku hidup?

kenapa kau hadirkan aku bila air gula tak lagi manis?
kenapa kau besarkan aku bila embun pagi tak lagi sejuk?

maka ijinkan aku terbujur berkafan mendung
maka ijinkan aku hembuskan akhir nafasku

jinkan aku, tuhan…

Saturday, May 12, 2012

TENTANG DIRIKU...


bagai musim hujan, diri ini tak lagi mampu mengeringkan jemuran basah
sia-sia jalani hidup dalam kesendirian
bagai hamparan tanah kosong, diri ini tak lagi kuasa menghalangi pusaran angin
sia-sia menapaki usia dalam ketidakpastian

kadang kutanyakan ini pada rembulan
tentang kesunyian yang tak berujung
kadang kutanyakan pada bintang
tentang dunia yang senantiasa mendung

sempat kuberpikir tentang kebersamaan
sempat pula kemerenung tentang kebahagiaan
tapi sering kali kalut mencuri heningku tuk tertunduk
menggali kenangan sekian puluh tahun lalu
saat sempat beberapa kali ku tak merasa sendiri
ketika sempat sekian kali ku tak merasa sepi

kini yang bisa kurasa hanya kepasrahan
akan usia yang tak lagi kubilang muda
akan usia yang kurasa cepat beranjak senja
di dalam jiwa yang tak lagi berasa

tak hendak lagi kupikirkan tentang diriku
tak akan lagi kupedulikan tentang jiwaku
yang kering kerontang bagai piring kosong tak bernasi

hanya kalianlah kini yang ada dalam benakku
hanya kalianlah yang mampu memenuhi dalamnya pikirku
karna hanya kalianlah untaian mutiara yang mampu kudekap
karna hanya kalianlah gelas kristal tempat kutuangkan air bening

mbak tatik dan keluarga….
mas bambang dan keluarga….
mas sigit dan keluarga…
mbak rini dan keluarga…
mbak retno dan keluarga…
mbak lilik dan keluarga…
mas heri dan keluarga…
adek ratih….

kalianlah harta dalam jiwaku yang tak ternilai
ijinkan aku mengatupkan tangan kutujukan pada tuhan
semoga kita rukun hingga tutup usia kita
kebersamaan kitalah satu-satunya asa dalam kesendirianku…

Sunday, March 25, 2012

CINTA YANG MENDUA


malam kian larut
dan rembulanpun bersembunyi di balik taring serigala malam
ketika mataku sembab dan tak lagi mampu membidik langit
ketika perih menyembelih hati yang tak lagi bertanduk

arah tak lagi berliku menyisir jalan yang kian menyempit
mengerucut pasti seiring kenyataan yang kini makin gamblang

tembang sumbang ilalang
menyadarkanku akan keberadaan cinta yang tereka
bagai puisi pujangga yang tercipta maya
menghunjam raga yang tak lagi memeluk jiwa

malam itu burung hantu tak lagi mampu belalakkan mata
ketika cakarnya mencengkeram jiwaku yang mulai hampa
tersadar akan cinta yang tak nyata
tersadar akan cinta yang mendua

kasih...
malam semakin larut
ijinkan aku tuk pejamkan mata
karena esok mungkin kau tak lagi ada
saat langkahku terganjal bongkahan luka
dan tak mampu lagi menggapai bahagia

kasih...
cukup sudah hatiku menyulam duka
kini hanya terdampar lemah di ayunan luka
karena cinta yang mendua

Sunday, December 11, 2011

MAAF BILA KUBEKUKAN HATI....

kudengar
rintih malam tak lagi lagi kudengar
saat suaramu mendengkurkan desahan hambar
dan saat itu hampir saja kuterlelap di sajadah terhampar

terkesiap saat kau bisikkan kata itu
sebuah janji yang awalnya terdengar syahdu
berbalut rayuan yang mampu sejukkan kalbu

hanya sesaat bahagia itu ada di sini
yang semula ada di relung hati
dan kini sirna menjauh pergi

tak lagi mampu kupercayai semua
ketika dusta menyingkap tabir yang kusangka ada
dan kini... hanya beku hati yang tertinggal nyata

maafkan aku bila kubekukan hati ini selamanya......

Saturday, June 18, 2011

sore itu...


sore itu tak lagi mampu kubeliakkan mata lelahku
penat hati yang kusangga sekian lama tak mampu menopang katup mata ini
rasa cemas dan takut mengikat erat nalar yang tak lagi bersahabat
pekat….
hanya itu yang kini terlihat
gelap….
hanya itu yang kini tersirat
tak ada lagi terang yang mampu bukakan mata hatiku
sore itu kembali ku tak sadarkan diri
menatap secercah cahaya yang nampak menyorot perihku
menjemputku menuju titik yang ku tak tahu apa
tak lama terkesiap aku melihat bayangan putih
seorang wanita cantik berbaju putih bersih tersenyum lembut
bentangkan kedua tangannya seolah meraih tubuhku yang kian lama kian lunglai
wanita itu menggenggam erat tanganku
menyeka butiran air mata yang tanpa kusadar mengalir deras dari mataku yang terpejam
dingin….
hanya itu yang kurasakan saat itu
beberapa saat ku menunggu suara wanita itu memecahkan kesenyapan
namun tak jua kudengar sepatah katapun darinya
hanya genggaman yang kian lama kian hangat
mengobarkan semangat hidupku yang tlah beku
tanpa kusadar kurebahkan kepalaku di dekapan wanita itu
menikmati belaian lembut dua tangan keriput di kepalaku
tiba-tiba perlahan kudengar suara lembut

“ngger, anakku sing bagus dewe…”
“aja nglokro kaya ngono”
“elinga ya ngger, yen kowe mono duwe tanggung jawab gede tumrap kabeh sedulurmu…”
“adimu sing durung waras ngenteni tanganmu bareng nggayuh kanugrahan”
“sedulurmu kabeh ngarepke kowe bisa nyangga kabeh pacobaning urip”
“aja nglokro yo ngger….”
“ayo gek ndang tangia”
“pun ibu tan kendat paring pangestu marang kowe”
“muga-muga kabeh impen lan gegayuhan luhurmu bisa kasembadan”
“bisa nyangga kanugrahaning adi lan kabeh sedulurmu”
“wis yo ngger…. pun ibu pamit kondur”
“kae lo, mbakayumu wis ngundang kowe”

pyarrrrrrrrr…………….!!!!!!!!
kini semuanya gelap sesaat
ketika mata ini tiba-tiba terbeliak
mimpi itu hilang seiring menghilangnya bayangan wanita lembut itu
pelan kubiasakan mata ini di kegelapan
kuraih laptop dan kubuka halaman facebookku
kupandangi foto dua pasang tangan yang saling menggenggam erat kiriman kakakku semalam
foto itu terlihat nyata
bagai kedua belah tanganku yang bergenggaman erat dengan kedua belah tangannya
dan perlahan, tangan-tangan lain menggenggam erat tangan kami
mereka saudara-saudaraku
menguatkan tanganku yang perlahan mulai kokoh
menopang cobaan hidup yang ku yakin kan segera berakhir
ya rob…
puji syukur kupanjatkan padamu
karna kau beri aku saudara-saudara yang sangat mencintaiku
apa adanya….
amin…

Wednesday, May 05, 2010

3........


jarum kecil di jam itu berputar kencang
sekencang detak jantungku yang tak kutahu tlah membeku
jarumnya menuju ke angka 3
angka yang menggambarkan 3 hari ku bersamanya
waktu yang sangat singkat mengecup bahagia
yang kini terserak hancur
oleh kata yang tak termaafkan

jarum kecil itu kini makin kencang menjemput angka 3
sebagaimana 3 harap yang tak lagi bisa aku genggam darinya
kejujuran, kepercayaan dan pengertian darinya
3 harap yang sebelumnya kusematkan dalam beningnya embun
yang kini sirna seiring munculnya mentari yang memusnahkannya

tak tahu aku harus berkata apa
tak tahu aku harus berbuat apa
sebagaimana ku tak tahu harus sakit hati atau apa
karna kesendirian ini tlah menjadikanku segenggam batu padas
yang tak mampu menumbuhkan sehelai rumput hijau bernama cinta

3......
sebuah angka yang ku tak tahu berarti apa
3......
sebuah angka yang menjadikanku trauma
3......
sebuah angka yang tak lagi bisa kucerna

andai ku bisa melupakannya....
mungkin tak kan lagi ada luka yang menjadikanku buta
akan asmara yang sebenarnya masih ada
meski terbungkus dendam yang tanpa kusadar tercipta

ah, rasanya mustahil aku bisa melupakannya
sedangkan 12 adalah angka saat aku tercipta
sadarkah kau bila 1 dan 2 adalah 3?
lantas bagaimana ku bisa melupakan 3?
bila tiap tahun aku harus merasakannya
hari yang semestinya indah dan istimewa

mungkin tak perlu lagi aku mengharap cinta
atau mungkin aku hanya bisa berharap....
terlahir di tanggal yang tak berjumlah 3

Saturday, April 24, 2010

NGGAYUH KATRESNAN JATI


sekar kang rinonce ing wanci ratri
wewangine tan bisa ngusap luh kang tumetesing netra
rujiting galih kang wus lami sinandhang
kadya bun atis rumesep ing gegodhongan aking

mbuh kapan panandhang oncat sakeng raganingsun
gumanti kabagyan kang dumunung ing diri pribadi
nganti pupus pengarepan ingsung
nggayuh katresnan jati kang wus sirna

hhuh gusti kang murbeng dumadi…
sun sowan ing ngarsa paduka
nebus karahayon kanthi jiwa raga kawula

Tuesday, March 30, 2010

HENING....


hening.....
tak ada desir angin
hanya dingin yang mengelus miang hati
ada setitik kelip bintang sepintas menyembul
dari gelapn mendung yang bermain bersama kelelawar

tak lagi mampu kugambarkan pelangi
yang sore tadi bercengkerama di birunya langit
bersama awan putih yang kujadikan alas tidurku

lantas masih adakah esok
yang janjikan seminya pucuk daun jati yang lama kering?

Saturday, March 06, 2010

TAK INGIN KUMILIKI LAGI


ketika angin menghentikan nafasku malam ini
karna hati tak lagi lelap menidurinya

ketika gelap menghentikan detak jantungku malam ini
karna jiwa tak lagi pulas mencumbunya

ketika dingin menutup mataku malam ini
karna kasih tak lagi terlihat bayangnya

maka kuserahkan hati ini kembali padaNYA
maka kujanjikan jiwa ini kembali padaNYA
maka kuhapuskan kasih ini...
yang tak lagi ingin kumiliki

IJINKAN DIA BAHAGIA


bayangan badan subur itu tak pernah lepas dari kornea mataku
karna matanya yang teduh bagai selimut beludru yang menghangatkanku
keanggunan alamiahnya terbalut jilbab suci
mampu menghantarkanku menjadi seorang adik yang selalu mencintainya

yang kutahu senyum lembutnya senantiasa ikhlas terkembang
dari lembut bibir halusnya
yang kutahu mata itu senantiasa teduh menghangatkan jiwa
juga bagi ketiga putra-putrinya

meski sejatinya ku tahu pula sakit dalam hatinya
meski sebenarnya kutahu juga derita yang disandangnya
namun tak sekalipun rasa perih terpancar dari wajah ayunya

tuhan…
andai kau ijinkan aku bersimpuh di hadapanMU
maka biarkan airmataku ini membasuh telapak kakinya
dimana tersimpan surga bagi anak-anaknya
biarkan tiap desah nafasku mengusap lembut pipinya
dimana terkandung kenangan manis saat aku menciumnya

tuhan…
kutahu tak semua keinginanku kan menjadi nyata
kutahu semua kehendakmu harus aku terima
maka ijinkan aku hanya meminta satu dariMu
lepaskan dia dari segala sakit dan deritanya
ijinkan dia bahagia di hari-harinya
mendulang kasih di antara keluarga besarnya

Monday, March 01, 2010

KAU CANTIK TANPA DIRIKU


kabut dingin kembali selimuti sepi malamku
saat ribuan kunang menari di atas pusara hati

bayangmu tak muncul juga di redup sorot mataku
meski berat kucoba singkap lembaran buku ingatan

mungkin kau sedang terlelap di balik mendung
hingga tak lagi mata ini bisa menelanjangi lekuk tubuhmu

atau kau sedang terpana di balik cahaya bulan
hingga tak mampu kulukis paras ayumu karna sinarnya

kasih...
bila embun pagi menetes lembut ke pangkuanmu
biarkan sejuknya membangunkan tidur panjangmu
dan malaikat menerbangkanmu ke istana bunga
hingga tak perlu lagi kusematkan mawar di telingamu
karna wanginya tlah membuatmu cantik tanpa diriku

Wednesday, February 24, 2010

YANG AKU TAHU...


ada denting suara kecapi yang biasa dimainkannya
namun tak lagi bisa kudengar lewat mataku

ada bayangan jemari lentik memainkan dawainya
namun tak lagi bisa kulihat lewat telingaku

ada bunga mawar tersemat di rambut indahnya
namun tak lagi bisa kucium wanginya lewat lidahku

selembut madu mengalir lembut membasahi lehernya
namun tak lagi bisa kurasa manisnya lewat hidungku

yang aku tahu...
lewat hatiku aku merangkum nada yang dimainkannya

yang aku tahu...
lewat jiwaku aku mengelus jemari lembutnya

yang aku tahu...
lewat rasaku kusematkan bunga indah di rambutnya

yang aku tahu...
lewat cintaku kulelehkan kasih yang melumuri hati sucinya

Saturday, February 20, 2010

YANG AKU TAHU...


ada setitik cahaya terang...
tapi aku tak tahu itu apa

ada desiran angin lembut...
tapi aku tak tahu dari arah mana

ada sapaan hangat...
tapi aku tak tahu dari siapa

ada detak jantung di dada ini yang makin kencang...
yang aku juga tak tahu karena apa

yang aku tahu hanya...

cahaya terang itu menerangi hatiku
desiran lembut itu menyejukkan jiwaku
sapaan hangat itu menentramkan kalbuku
dan detak jantung ini membahagiakan diriku

Saturday, February 13, 2010

LUKA


perih itu kini kembali menyapa hariku
tak seperti yang aku impikan
menimang kebahagiaan yang selama ini kuharap

luka ini kembali tumbuh
bagai duri yang perlahan timbul menembus kambiumnya
yang kali ini tanpa darah mengucur karena beku

kesabaran yang kujanjikan padanya
kini pudar seiring bola kosong yang dimainkannya
tanpa peduli atas ketulusan penantianku

ada sakit yang kini kurasa
ada rindu yang kini kudamba
ada gamang yang kini kucerna

haruskah aku tetap menunggunya?
haruskah aku tetap mengharapkannya?
setelah pohon itu kerontang tanpa dedaunan asa?

ah...
sebaiknya kuluangkan masa
tuk balut luka yang kini kembali menganga

HARUSKAH....


ada getaran yang tak kutahu apa artinya
bagai desir angin yang menyibak kelambu di kamarku

ada debaran yang tak kutahu apa maknanya
bagai hentakan nada lagu kerinduan di telingaku

yang kutahu hanyalah keraguan yang semakin penuh
mengisi bejana hampa yang ada di kalbu

yang kutahu hanyalah kesangsian yang semakin sarat
akan cinta yang pernah ditawarkannya padaku

haruskah aku menunggu?

Sunday, February 07, 2010

HATIKU MEMBEKU


ada nada rindu yang tak lagi berirama...
semerdu senandung yang dulu kau dendangkan

ada mawar biru yang tak lagi mekar...
seharum bunga-bunga yang dulu kau rangkaikan

ada pelangi senja yang tak lagi berwarna...
seindah getar cinta yang dulu kau torehkan

yang ada kini hanyalah nada sumbang
yang ada kini hanyalah bunga kerontang
yang ada kini hanyalah pelangi remang

sesumbang hatiku yang tlah kembali beku
sekerontang ragaku yang mulai kaku
seremang jiwaku yang kembali ragu

akan cinta tulus yang tak lagi bisa kurasakan...

Friday, February 05, 2010

PUDAR


tak kukenali lagi wajahku di bayangan cermin...
ketika merah hatiku perlahan pudar...
tersaput embun kerinduan...
yang tak lagi bisa kurasakan sejuknya...

Tuesday, February 02, 2010

BAGIKU


bagiku malam tak lagi berujung...
kala kudekap erat tubuh mungilnya
bagiku malam tak lagi mendung...
ketika kukecup mesra keningnya

mungkin ku tak tahu apa yang dia rasa...
saat jemarinya genggam erat tanganku
mungkin ku tak tahu apa yang hendak dikata...
saat kutahu hanya desah nafasnya menghembus bibirku

yang kutahu dia bukan milikku
yang kutahu dia bukan kekasihku

ku tak peduli dengan semua itu
bagiku tlah cukup ada dia di sampingku
bagiku tlah cukup tanganku jadi sandaran lelapnya
karna inilah hakiki cinta yang kumau
bukan ungkapan sayang tanpa makna
melainkan senandung asmara yang terungkap raga

KEHADIRANMU


dirimu hadir dalam ketidaktahuan...
namun yakin kutahu rasa sayang itu ada lewat desahan nafasmu...
yang kurasakan lembut meniup tirai hatiku...

Saturday, January 16, 2010

CINTA TANPA SYARAT


ketika aku mencintaimu tanpa syarat...
maka pinanglah aku dengan mahar kesetiaan
yang terbungkus indah bertali kejujuran...

Friday, October 16, 2009

BAGIKU...


bagi mereka mungkin kau bukan bunga yang menebar wangi...
tapi bagiku kaulah aroma harum yang mengalir di setiap nafasku

bagi mereka mungkin kau tak seputih kapas...
tapi bagiku kaulah rajutan benang putih yang menghangatkan tubuhku

bagi mereka mungkin kau tak secantik rembulan...
tapi bagiku kaulah terang yang menyinari setiap langkahku

bagi mereka mungkin kau bukanlah sesuatu yang berarti...
tapi bagiku kaulah pena pujangga yang jadikan aku puisi terindah

bagi mereka mungkin kau bukanlah yang sempurna...
tapi tuhan menciptakan aku tuk menyempurnakanmu

(untuk seseorang yang kukasihi...)

Tuesday, October 06, 2009

KAU MASIH YANG TERCANTIK...


sorot mata itu masih saja menyiratkan kesedihan
raut muka keriput itu masih saja menyimpan berjuta penderitaan
namun saat melihat sosokku di hadapannya
semburat kebahagiaan terpancar
binar rasa rindu tampak nyata dari senyumnya yang mengembang
seperti kerinduan seorang ibu pada anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang

sejenak aku terpana tak tahu apa yang mesti kulakukan
sosok di hadapanku itu semakin renta
keriput wajahnya semakin tampak nyata
mengguratkan berjuta penderitaan yang tak kunjung sirna
sesaat mata ini kabur tak lagi mampu menggambarkan wajahnya
terhalang tirai air mata yang tak kusadar mulai menggenang

terkesiap aku oleh lamunan yang tak pernah aku lakukan sebelumnya
aku dengar suara yang sudah tak lagi bisa aku kenali
bukan karena telingaku yang tak mampu lagi mendengar
bukan pula karena pikiranku yang sejak tadi melayang entah kemana
tapi suara itu benar-benar tak lagi jelas kudengar
namun kalimat yang sama terus meluncur lembut dari bibirnya yang bergetar
berulang-ulang...
kucoba mencerna kalimat apa yang luput aku telaah artinya
setelah sekian lama terulang kalimat itupun mampu kudengar dengan nyata

kowe sapa le?
kowe sapa le?
kowe sapa le?


ya ALLOH..... ibuku tak lagi mengenaliku
bukan karena rasa sayangnya tlah hilang atas diriku
kerentaan dan penderitaan tlah menggerogoti ingatannya
kalimat itupun tak begitu jelas kudengar
lagi-lagi kudekatkan telingaku di bibirnya yang semakin bergetar

ya ALLOH, kenapa dengan suara ibuku?
kenapa kau ambil suara indah ibuku yang dulu setiap malam meninabobokan aku
dengan tembang pangkur kesukaanku?
kusaksikan ibu tak lagi bisa berbicara dengan jelas
bagai seorang anak kecil yang baru saja belajar berkata-kata

tak kuasa air mata ini kembali deras mengalir
kerengkuh tangan ibu
kucium lekat tangan yang dulu memandikan aku dengan penuh kasih sayang
sempat kulihat dari balik tirai air mata yang terus mengalir dari mataku
guratan kerentaan yang menghias tangan lembut itu
ya ALLOH...
itukah tangan yang dulu mengelus kepalaku tiap malam saat menidurkan aku?
itukah tangan yang mengaduk masakan sayur asam kesukaanku?
kenapa sekarang tak kokoh lagi?
kenapa sekarang senantiasa bergetar?
tak kuasa aku hadirkan rasa kasihan dalam benakku
kurengkuh tubuh renta itu
kupeluk erat dengan kedua tanganku

iku aku bu, widodo...
anak lanangmu sing bagus dewe
aku sing sowan
kadara rasa kangenku marang ibu
saiki aku neng kene bu....


kini tak kuasa lagi kubendung air mata yang kembali deras mengalir
membasahi pundak ibu yang dulu tak lelah menggendong aku bila menangis
dan kini ibu memundurkan kepalanya
memandang diriku yang tak lagi berupa karena basah air mata
dia kernyitkan dahinya
sejenak ibu seperti berpikir dan mengurai kenangan
menggambarkan wajah anak-anaknya melalui mata telanjang

dan begitu kernyitan dahi itu menghilang
suara parau kembali terdengar menyisakan kepedihan yang kembali mengiris
suara yang tak begitu jelas kudengar
tapi kutahu pasti arti yang tersimpan

oalah le.... kowe bali
kowe neng kene
le, anakku sing bagus dewe
aja mbok tinggal maneh ibumu sing wis tuwa iki yo
lilanana aku urip seneng ya le....
lilanana aku nggayuh urip mulya ing sisaning umurku


duh ibu....
sampun penjenengan ngendika mekaten
sampun mundhut palilah kula pikantuk kanugrahan gesang
karana kedahipun kula ingkang caos kamulyan dumateng penjenengan
kula ingkang lepat, ibu...
kula ingkang supe kaliyan penjenengan amargi pakaryan ingkang kula ayahi
duh ibu...
keparenga kula matur ing ngarsa penjenengan
sineksen sagunging malaikat ALLOH
lan muhammad rasullulloh
dene kula tansah ngabekti dumateng penjenengan selaminipun
tan adamel dosa ingkang penjengan tuturaken duk rikala samangke
mugi dadosa kula anak penjenengan ingkang sholeh

oalah le..... sawangen saiki ibumu
ibumu saiki wis kempong peot ora duwe untu
ibumu wis ora kuwat maneh nggendong awakmu
ibumu wis ora ayu maneh kaya biyen le....


bergetar kupotong kat-kata ibu
tidak ibu!!!!!!!
karena bagiku kau tetaplah ibuku yang paling cantik

ya ALLOH...
hanya satu kini yang kupinta dariMU
ijinkan ibu bahagia dalam jalanMU
dan menimang cucunya dari rahim istriku...

ya ALLOH...
kabulkan doaku

Thursday, September 10, 2009

LANGKAHKU KINI...


duh gusti...
rumaos ayem tentrem manah kawula samangke
tatkala sinarMu menarangi setiap langkahku

duh gusti...
sun tansah eling duk rikala nyelaki kasunyatan urip
namun diriMU tak pernah memarahiku

duh gusti...
gunging panuwun sun ngarsake mring paduka
dene wus peparing sunaring margi bebener

duh gusti...
moga kearifan pikir dan ketenangan hati
senantiasa bersemayam dalam jiwa ini
tuh tapaki langkahku esok hari

Monday, September 07, 2009

TAK LAGI TERBELENGGU...


ya rob...
kini kau tunjukkan aku warnanya
kini tlah kau tunjukkan aku hitamnya
kini tlah kau tunjukkan aku pula kelamnya

terima kasih, ya rob...
kau pisahkan putihku dari hitamnya
kau pisahkan terangku dari kelamnya

sekian lama sudah ku terkungkung gelap
sekian lama sudah ku terbelenggu pekat
sekian lama sudah ku terpasung kuat

kini ku sendiri menatap awang
tengadah menantang petang
songsong fajar terang

ya rob...
jaga selalu terang di hatiku
jangan pernah lagi hadirkan dia
yang kan gelapkan jiwaku

ya rob...
amin

Sunday, September 06, 2009

BUNDA, MAAFKAN AKU...


bunda....
lagu ini kupersembahkan untukmu
mengiringi surat ini yang kutulis dengan pena hati bertintakan air mata
kutitipkan rasa rindu yang tak lagi bercawan
maafkan anakmu ini bunda
yang tak pernah mampu membahagiaankanmu
mendekap erat tubuh rentamu di setiap desahan nafasku
maafkan pula anakmu ini yang tak kunjung menjumpaimu
karena tak kuasa menahan sedih bila harus bertemu dirimu
maafkan aku, bunda...

IJINKAN AKU MELUPAKANNYA...


ya rob...
kenapa tak kau biarkan aku sendiri?
merenungi jati diri yang terkoyak oleh rasa perih

ya rob...
kenapa masih juga kau biarkan dia menabur luka?
dengan sayatan sembilu yang makin dihujamkannya

ya rob...
tlah kutrima rasa pedih di hati hamba
tapi kenapa masih saja ada luka yang ditanamkannya?

ya rob...
tak cukupkah dendam terbingkai rapat di hatinya?
haruskah umbar tawanya menggema menembus raga?
atau inikah yang hendak dimauinya?
menatap diriku bersimbah darah mengaliri luka

ya rob...
tolong cukupkan sudah
perih yang kian hari kian tertatah
bagai dedaunan kering tanpa pelepah
menanti maaf darinya bersimpuh pasrah

ya rob...
kuinginkan dia bahagia
dengan siapapun yang didambanya
tanpa harus menyebar perih di luka yang kian menganga

ya rob...
hapuskan bayangnya dari anganku
biar kusandang lara ini sendiri berselimut pilu

ya rob...
tak kuasa kulupakan dia
meski sakit terasa bila mengenangnya
karna sembilu yang masih tetap ada di tangannya
yang siap menyayat perih luka di sekujur raga

ya rob...
hanya padamu aku bersimpuh
beri jalan pada diriku yang semakin rapuh
tuk lupakan semua rasa yang pernah berlabuh

ya rob...
ijinkan akumelupakannya
meski kutahu bagai menyulam angin kembara

ya rob...
ijinkan aku

Saturday, September 05, 2009

YANG TERTINGGAL...


kini usai sudah...
yang tersisa hanyalah perih

kini usai sudah...
yang tertinggal hanyalah kesendirian

KESENDIRIANKU...


tiga minggu sudah tak kulihat senyum manisnya
tiga minggu sudah tak lagi kumanjakan dia
tiga minggu sudah ku tak bersamanya

kini tak kutahu dimana dia
kini tak kutahu apa yang dia rasa
kini tak kutahu siapa bersamanya

yang kutahu hanya rindu yang ada di dada
yang kutahu hanya cinta yang tetap ada
yang kutahu hanya sayangku padanya

tak lagikah dia ingin tahu yang aku rasa?
tak lagikah dia ingin tahu siapa yang senantiasa kupuja?
tak lagikah dia ingin tahu betapa menderitanya diriku tanpanya?

tuhan,
andai kau beri aku cara
yang mampu memutar masa....

Tuesday, September 01, 2009

KATA YANG TAK TERUCAP... (SESAL)


bila kata terlarang tuk diucap
bila tanya tak lagi terjawab
masihkah dua hati bisa terikat?

kini asa tak lagi ada
meski harap senantiasa nyata
karna tak lagi bisa kulihat senyumnya
hanya paras indah yang sarat murka

kasih,
tak lagikah ada rasa sayang?
tak lagikah ada yang bisa dikenang?
haruskah semua sirna tinggal bayang?

tuhan,
bila kau nyata ada di benaknya
ijinkan aku kembali menata raga
bimbing aku kembali mengasah jiwa
agar kuraih lagi pesona
tuk kembalikan cintanya

amin.....

Sunday, August 30, 2009

IJINKAN AKU MENATA DIRI DENGAN RIDHOMU


kususuri jalan setapak
dengan lunglai langkah yang tak kusadari
hanya debu jalanan yang kadang menggugah lamunanku
menepis wajah sedih yang tertutup kusam
tak kudengar lagi deru mobil
tak kudengar lagi klakson motor
bahkan tak kuhiraukan lelehan keringat hangat di sekujur tubuhku
tak kurasa lelah kaki melangkah
hanya kalut yang membungkus raga
hanya limbung yang menghias jiwa
bukan karna tak ada lagi taxi yang bisa membawa diriku
bukan pula tak ada busway yang mampu menghantar niatku
hanya hampa yang ada di rasa
tak tahu lagi kemana kaki ini membawa raga

mata ini terkesiap
saat kudengar deru bajaj yang memekakkan telinga
saat itu kutersadar
kokoh berdiri sebuah warung kecil di depan mata
entah mengapa tanpa kata kumasuki warung itu
kududuki bangku panjang kayu coklat yang kosong tak berpenghuni
sejenak ku terdiam tak tahu apa
sejenak ku terpana tak tahu mengapa
hanya seorang bapak renta yang melihatku penuh tanya
ah... aku lupa
mungkin bapak itu melihat lelehan air mataku yang lupa kuseka
tapi akupun tak tahu kenapa ada lelehan itu
akupun tak mengerti kenapa tak kuseka pula
yang aku tahu, hanya luka yang kian lama kian menganga
tak ada lagi kata sejenak
bapak itu memanggilku dengan halus
"nak... mau minum atau makan?"
terkesiap aku karenanya
mendadak aku bingung
mendadak aku linglung
mengapa aku berada di sini?
siapa yang menuntun langkahku ke sini?
tapi aku harus menjawab tanya
"bapak, tolong beri aku minuman hangat"
"agar air kembali suamkan hatiku yang mendadak beku"
tak kudengar lagi tanya
hanya tatapan mata aneh bapak itu tertuju padaku
tak kuasa lagi kuungkap kata
hanya jari telunjuk ini mengarah pada sesuatu
sebuah botol berwarna bening dengan isi cairan berwarna emas

sejenak angin bagaikan terhenti
terlintas tanya dalam hati
benar itukah yang kukehendaki?
ah, aku tak peduli lagi
aku hanya ingin sejenakl lupa
dengan segala derita yang baru saja menimpa
kembali aku terkesiap
suara denting gelas beradu dengan botol yang berada tepat di depan mata
tak kutahu bagaimana kedua benda itu sudah ada dalam genggamanku
sebagaimana ketaktahuanku akan minuman yang kuteguk
pahit terasa...
panas kurasa...
tak pernah kutemukan minuman seperti ini sebelumnya
tak pernah pula kuteguk minuman seperti ini sebelumnya
hanya tanda tanya yang ada di dada
kenapa air ini kini menyayat kerongkonganku

kuhentikan sejenak tegukan kasar yang tak pernah kulakukan
kembali aku terdiam sekian lama
dan...
tiba2 nampak seseorang yang kabur kulihat di pelupuk mata
makin jelas...
makin nyata...
dan itu dia
kulihat matanya menangis sambil menunjuk botol yang ada di genggamanku
dan kulihat kini dia menggeleng-gelengkan kepalanya
lirih kudengar suaranya yang parau
"bukan itu cara yang tepat untuk melupakan segalanya"
"bukan itu"
"bangunlah..."
"kau tahu aku tak menginginkan kau lakukan itu"
"meski tak lagi aku perhatikanmu setelah ini"

terkesiap aku
kupejamkan sejenak mataku
tapi saat kubelalakkan mata ini, tak lagi ada dia
meski masih sempat kulihat bayangan punggungnya berjalan lunglai meninggalkanku
saat pelan kutaruh botol itu kembali ke meja
dan kurogoh dompetku
"bapak, aku bayar semuanya meski tak lagi aku mampu menghabiskannya"
"maafkan aku telah membuatmu mengandung tanya"

lunglai kembali kulangkahkan kaki tinggalkan bapak tua
hingga kudengar suara adzan maghrib
menggema dan mengajak aku tuk berbuka
ya alloh....
piluku tlah butakan aku akan puasa yang hari ini mestinya ada
sedihku tlah menutup mata hatiku akan ibadahku hari ini
semua tlah terlambat ya alloh
tlah kubatalkan ibadahku kali ini dengan sesuatu yang pasti membuatmu murka
ya alloh...
maafkan aku
ampuni hambamu
tak lagi kubuat sama dalam hidupku
dengan kesalahan dan kegagalan yang mestinya membuatku dewasa

ya alloh...
kini ijinkan aku kembali menghias wajahku dengan kalammu
kini ijinkan aku kembali menata diri dengan keindahan ridhomu
ijinkan aku ya alloh...
ijinkan aku

Sunday, August 16, 2009

MAAFKAN AKU (untuk seseorang yang kusakiti)


tak ada lagi kata yang mampu kurangkai
tuk gambarkan kepedihan yang kembali hadir
hati ini tak lagi berpalung
bagai kembara yang tak lagi berujung
sejak kauputuskan rangkaian kalung mutiara
yang melingkar indah di leherku
yang dulu kausematkan mesra
kini butiran mutiara itu berhamburan
di tanah padas kerontang
yang beberapa hari ini kering tak tersirami
meski hanya oleh setetes embun pagi hari

kasih…
kini tak kan ada lagi canda yang kudengar
tak kan ada lagi geliat manja yang bisa kutatap
hanya bulir-bulir air matamu
yang sarat dengan kepedihan
karena kesalahanku yang kembali terulang

kini hanya satu kata yang kuharapkan
kata maaf darimu atas kepedihan yang kutanamkan

kini hanya satu harap yang aku hunjukkan
kehadiran seorang pangeran
yang membimbingmu meniti jalan terang

kasih…
semoga kau tahu
embun itu kan tetap menetes di pagi hari
menyejukkan hati yang beku karna dendam

kasih…
semoga kau tahu
cinta ini tak kan pernah lekang tersaput mendung
yang memisahkan surya dan buminya

kasih…
kuingin kau tahu
bahwa aku tetap menyayangimu
apapun kau adanya

Sunday, June 21, 2009

KEKECEWAAN (untuk seseorang yang kuharapkan datang)


air mataku tak mampu lagi kujadikan benang
tuk menjahit luka yang kian lama kian menganga

senyum inipun tak lagi bisa kujadikan parang
tuk membunuh kecewa yang senantiasa ada

mungkin tak seperih ini
kala kecewa pertama kali mengetuk pintu jiwa

tapi setelah sekian ribu kali
masih adakah pintu yang bisa terbuka?

air bah kekecewaan kini tak lagi berpenghalang
saat jiwa tak berpintu enggan menghadang

kini tak lagi nalar mampu bedakan
antara pilar dan tiang
antara harapan dan kekecewaan
tersaput banjir yang kian membandang

Friday, June 19, 2009

LAYU (for someone i just left)


duh gusti...
pupus kang wingi ijo royo-royo

kini layu tan kena soroting surya
katon aking kadya godong garing tan aji guna

harapan yang kupupuk kini sirna
karna kuyakin tak mungkin ku memilikinya

duh gusti...
ing wanci ratri samangke

mungkin kau jadikan malam terakhirku
memandangi wajahnya yang lembut

karia slamet ari...
muga karaharjan tansah lumuber tumrap sliramu

PUPUS KANG SEMI (for someone i just found)


katon pupus ijo kang semi ing lemah aking
segar menyapa surya yang mengelus lembut chlorophyllnya
mung sapucuk...
di tengah luasnya rekahan tanah yang tlah sekian lama kering
ada setitik harapan kang rumesep ing sajroning galih
akan jatuhnya embun dini hari
yang kian membuatnya rindang

gusti…
mung sawiji panyuwun ingsun

jaga pupus itu hingga besar
menyuburkan tanah kering yang lama tak tersemai

gusti…
gunging panuwun ingsun dene wus peparing
sawijining jalma kang gawe gogroging ati

yang tlah lama membatu bagai padas

gusti…
mung sawiji panyuwun ingsun
katresnan sawiji tan kabanjut ing wanci rina

Monday, April 06, 2009

pagi ini...


pagi ini aku masih terbangun
pagi ini masih ada nafas yang mengalir lembut dari hidungku
pagi ini masih kurasakan sedikit sengatan matahari
pagi ini masih kurasakan dingin yang menyelinap masuk
mengelus lembut lengan
yang tertutup selimut beludru

tuhan...
masih kau ijinkan aku tuk merasakan hangatnya mentari
masih kau ijinkan aku pula merasakan pahitnya sakit hati
ataukah ini berati masih pula kau berikan harapan
tuk dia kembali?

Tuesday, March 24, 2009

tangis kerinduan


tuhan...
hari ini tak kudengar kicau riang kenari kecilku
yang tlah terbang sejak subuh tadi
saat air mata ini kering
tersaput waktu

tuhan...
kini perih itu seakan sirna
terganti nada rindu yang menyesak dada

tuhan...
tolong sampaikan pada kenari mungilku
di sini tlah kembali tumbuh ranting baru
dihiasi rimbun dedaunan yang tak lagi berdebu
agar dia hinggap bersemayam di peraduan kalbuku

tuhan...
aku rindu dia

ranting patah


dedaunan kering itu kian meranggas
satu per satu luruh ke bumi
tinggalkan ranting kering
yang selama ini menopang

tak terdengar lagi kicau burung
yang dulu senantiasa bertengger
suarakan kidung cinta

yang tersisa kini hanya ranting kering
yang kian rapuh
seiring nyanyian burung kenari
yang kian lirih tersaput halimun duka lara

dan kini ranting kering itu patah
gugur ke bumi menyayat daun kering
yang lebih dulu luruh lantak
terinjak roda pedati raja efendi
yang kian pongah menari di atas luka hati
berteman burung kenari yang merdukan bejana hati

mata ini tak juga terpejam


jam digital kecil di atas tv detiknya berjalan cepat
1.53... 1.54... 1.55.... dini hari
hingga tak kuasa kuikuti geraknya
tapi tetap juga mata ini tak kuasa terpejam
ingatanku masih juga terbayang dengan peristiwa malam tadi
keraguanku akan ucapannya
keraguanku atas pengakuannya
benarkan dia sendiri malam itu?
benarkah dia terbuai mimpi malam itu?
semuanya berkecamuk berbaur jadi satu dalam benakku
membuat mata ini semakin terpicing
meski berat badan ini menyangga penat
kucoba rebahkan tubuh lelah ini
namun ingatanku kembali ke tempat itu
dimana dia terbaring pulas
tanpa kutahu kebenarannya
tanpa kutahu benar tentang kesendiriannya
harus begitu mudahkah aku mempercayainya?
setelah trauma itu menghiasi luka?
setelah kutahu masih ada bayang orang ketiga?
ah....
mata ini semakin kabur
tersaput derasnya air mata yang perih mengalir
akankah keraguan ini tetap akan bersemayam?
ah....
biarlah
biar aku coba tuk pejamkan mata
toh sakit hati ini tak juga mau pergi
meski kuharus merajut mimpi
waktu jua nanti yang akan membuka mata hati
bila benar cintanya menyuapi dendam
atas derita yang pernah dirasakan olehnya
yang tak seharusnya terlampiaskan pada diriku

Monday, March 23, 2009

terpenjara


hati ini kian terpenjara
oleh luka yang kian menganga....

sepi


sepi...
tak ada lagi desah nafasku terdengar meski lirih
tak ada lagi kata yang bisa mengungkap sedih
yang tetap bersemayam di hulu hati

tuhan...
beri lagi aku kekuatan
beri lagi aku ribuan aksara
agar aku bisa merangkai kata
tuk ungkapkan duka
menjadi sebuah lencana
yang kan kusematkan padanya
sebagai kiasan cinta yang tak pernah tersampaikan
karena cinta ini akan tetap terbalut keraguan

kabut keraguan


sore ini kabut kelam menghalang cahaya surya
yang siang tadi menghangatkan jiwa ini
sebagaimana keraguan yang tiba-tiba kembali menyeruak
membungkam mulut ini
yang hendak menyuarakan kata "aku sayang kamu"

tuhan...
kenapa kembali kau hadirkan keraguan di hati ini?
adakah trauma masa lalu kembali menghantui?
ataukah benar adanya keraguan akan ketulusan hatinya
yang berikrar membungkus luka hati yang pernah ada?

tuhan,
beri aku kekuatan
untuk menghadirkan sosok itu nyata di kelopak mata
yang benar-benar ada
yang benar-benar mencinta
tanpa harus ada duka lagi
tanpa harus ada yang kedua lagi

tuhan...
ijinkan aku menyingkap kabut
dan menjadikan hangat mentari selimut peraduan cinta

tuhan... ijinkan aku

setitik cahaya


tuhan,
ternyata kau maha tahu...
kau lihat air mata ini mengucur deras dari pelupuk mataku
ternyata kau maha mengerti...
kau pahami tetes darah mengucur deras dari luka hatiku
ternyata kau maha kuasa...
kau bukakan lagi hatinya tuk lupakan dia
ternyata kau maha adil...
kau kirimkan lagi dirinya ke dalam dekapanku
ternyata kau maha bijak...
kau berikan setitik cahaya asa di kehidupan cintaku

terima kasih tuhan...
jangan lagi kau renggut dirinya dariku

sendiri


tuhan...
tlah kau jawab doaku
yang kuhunjukkan sekian lama
kau hadirkan seseorang yang kembali membuatku sadar
akan arti mencintai dan dicintai

mata itu begitu teduh menatapku setiap saat
senyum itu begitu agung mendamaikan hatiku yang dulu hampa

tapi tuhan...
kenapa kedamaikan itu hanya kau berikan sesaat?
kau renggut lagi dia dariku
hanya karena dia tak kuasa lupakan kekasih hatinya terdahulu

tuhan...
haruskah siksa cinta jadi takdir hidupku?
tak lagikah bisa kurenggut kebahagiaan dari seseorang
yang benar-benar mencintaiku tanpa harus mendua?

ah....
mungkin aku memang tertakdirkan sendiri
ah....
mungkin aku memang tak berhak mencintai
ah....
mungkin aku memang tak berhak dicintai

mmmmmmmm....
kini kuputuskan tuk sendiri lagi

Monday, March 16, 2009

bimbang


tlah kuhabiskan hari-hariku dengan pekerjaan yang menggunung
tlah kuhabiskan minggu-mingguku dengan aktifitas yang menumpuk
tlah kuhabiskan pula bulan-bulanku dengan kesendirian
hingga kemaren-kemaren aku terlupa
dengan rasa perih yang pernah bersemayam

tapi pagi ini ada luka yang perih
rasa kehilangan itu kembali hadir
saat kubuka facebook dan kupandangi fotonya

mata itu masih tetap teduh
paras itu tetap menampakkan kesabaran
senyum itu tetap pula membenamkan aku dalam tumpukan embun

ah....
kenapa pula aku harus mengingat dia tuhan?
bisakah kau tepiskan wajah dia dari pelupuk mataku?
bisakah kau hilangkan senyum teduh dia dari ingatanku?

aku tahu kau maha bisa
aku tahu kau maha kuasa
tapi kenapa tak kau lakukan itu tuhan?
kenapa tak kau hilangkan sosok dia dari ingatanku?
ataukah kau hanya menguji kesabaranku?
hingga masa kau hadirkan lagi dia dalam pelukku?

ah....
mungkin itu hanya ilusi kesendirianku
ah....
mungkin itu hanya percikan harapanku yang masih tersisa

tuhan....
kalau memang tak kau ijinkan aku bersamanya
ijinkan aku melupakan dia

ah....
tapi kenapa masih juga ada senyum kesabaran dia
saat mata ini terbuka?

tuhan....
tolong tepis rasa bimbang ini

Wednesday, March 04, 2009

pupus


kali ini tak secuil kata bisa kutoreh
jari ini kelu
bibir ini beku
hanya luruh air mata
basahi kertas putih tanpa makna
perih...
tak lagi mata terkatup membendung luka
yang mengalir deras dari mata batinku
pupus sudah asa yang kubangun
dari raupan carang berduri
yang tersisa hanya darah kering
tergambar jelas di atas jangat tubuhku

Saturday, February 14, 2009

sekeping hati sunyi


masih sarat kata yang tak kuasa terungkap
masih sarat tanya yang belum terjawab
bukan karena tak ada lagi hasrat
tapi lidah ini kelu
tapi lidah ini kaku
menahan kata yang kutawarkan
menahan nafas yang kuhembuskan

masih banyak bahagia yang ingin kuberi
masih banyak derita yang ingin kubagi
bukan karena tak ada lagi nyali
tapi semua menjauh pergi
tapi semua seakan benci
mencari lagi teman sejati
mencari lagi gantungan diri

tuhan,
akankah kau biarkan aku sendiri
merajut mimpi yang tak mungkin terjadi?

keping hati ini tak lagi ada
keping hati ini terserak
keping hati ini sunyi

di penghujung usiaku


kerut di wajah ini kian sarat
tulang di tubuh ini kian rapuh
ketampanan ini tak lagi nampak
meski kusadar tak kumiliki sejak dulu

air mata tak lagi deras mengalir
kering...
sedu sedan kesedihan tak lagi lantang
parau...
hanya jerit hati lirih
terbalut kidung sepi dawai kecapi

kini kian kusadar
meski sejak dulu tlah kusadari
tak lagi ada tawa riang sahabat
tak lagi ada canda ria kekasih

semua menjauh
seiring melemahnya nafas ini
kematian yang menjemput

ya rob...
masih akankah kau biarkan aku sendirian
di sisa usiaku?
tak akankah kau kirimkan seseorang
sebagai teman di sepenggal sisa usiaku?
tak akan lagikah kau berikan sejumput 'hak' bagiku
untuk mencintai seseorang?
tak bisa lagikah kau berikan rasa belas kasih
pada seseorang yang bisa mencintai aku dengan tulus?
atau akankah kau kirimkan sepi di penghujung hidupku?

ya rob...
kalaupun itu kehendakmu
ijinkan aku memohon satu padamu
hanya satu...
kirimkan dia di sisiku
seseorang yang mengasihi aku
saat nafas akhir perlahan terhembus
meninggalkan ruang di jasadku

ya rob...
ijinkan aku melihatnya tuk terakhir kali
ijinkan aku ya rob...

Tuesday, October 14, 2008

kembali aku berbohong


hari ini kembali aku harus membohongi sahabat-sahabatku
saat mereka bertanya:

“does your blog reflects your true life?”
“was it what you feel”
“did you write the truly moments in your life?”


dan masih banyak lagi tanya di kepala mereka
yang terlontar dari bibir mereka yang bergetar penuh belas kasih

mereka berpikir itulah jalan hidupku
mereka berpikir itulah kebenaran yang aku sandang
mereka berpikir itulah takdir yang aku lakoni
mereka berpikir itulah suratan yang tak pelak harus aku jalani
mereka berpikir
dan mereka terus berpikir

saat itu aku hanya menebar senyum
saat itu aku hanya menebar tawa

"hahahahahahahahaha……"

kutampakkan wajah ceria di hadapan mereka
kusimpulkan senyum canda ria di depan mereka
namun kusembunyikan luka yang menganga
saat bibir ini membentuk kurva ceria
semakin kupaksakan senyum itu ada
semakin tajam sembilu itu menoreh luka

“ah… itu kan hanya sebuah karya”
“ah… itu kan hanya serangkaian kata”
“mungkin aku tak pandai merangkai kata bermakna bahagia”
“mungkin aku lebih lincah menorehkan pena duka di atas kertas”
“mungkin aku…”
“ah… lupakan saja”
“baca saja semuanya seolah bukan aku yang membuatnya”


kulihat masih ada tersirat tanya di benak mereka
masih sarat kebimbangan di mata mereka atas jawabku
tapi itulah yang kumau
tak ingin kubagi dukaku dengan mereka
tlah cukup mereka bahagiakan aku dengan keberadaan mereka
tak lagi ku ingin buat mereka semakin terbebani olehku
biarlah hanya blog ini yang tahu
apa yang sebenarnya aku rasakan

Sunday, October 05, 2008

aku hanya sekali


aku terus mancari…
arti diriku, makna keberadaanku di atas bumi
peranku sebagai manusia dan juga sebagai pribadi
aku mencari ke tempat mentari terbit hingga ke negeri mentari terakhir tenggelam
aku ada dimana keberadaanku diinginkan dan kedatanganku ditunggu
kadang aku menyesaki tempat dimana tak seharusnya aku berada
di tempat dimana tak seharusnya aku berdiri
kadang aku merasa hidupku hanya untuk diriku
keberadaanku hanya untuk diriku
tapi apa makna terdalam yang dapat digali dari manusia seperti aku
pengharapan terbesar apa yang dapat aku berikan bahkan untuk diriku sendiri
aku hanya penunggu waktu
bagai pohon yang berdiri di atas tanah rapuh
berakar serabut dan menunggu tumbang
bahkan aku tak seperti pohon pisang
walaupun sekali hidup tapi dapat beranak pinak
aku hanya sekali…
sel diriku tak dapat membelah
tak ingin membelah atau tak siap membelah
aku telah berusaha membelahkan diri
dan sekarang aku sedang tidak dalam masa berusaha lagi
pernah dulu dan gagal
belahan itu menyisa dalam dada
dan dengan sekuat tenaga aku menyebutnya bukan luka
walaupun jelas-jelas itu adalah sebuah luka yang menganga
tapi bukankah setiap manusia mempunyai lukanya sendiri-sendiri
dan kadang kita terlalu mendramatisir luka itu
padahal itu tak sedalam yang kita kira
luka itu datang dengan caranya
dan dia sembuh dengan caranya pula
malam ini aku tak ingin tidur karena memang tak mengantuk
tak ingin bersusah hati karena kurasa sudah cukup
tak ingin tertawa karena tak ada yang pantas membuat kutertawakan
tak ingin tampak bersedih karena tak ada guna
malam ini hanya aku dan malam
hanya aku dan laptop ini
hanya aku dan segala hal di sekelilingku
aku hanya merasakan sepi seperti ini
sepi di tempat yang paling aku cintai
sepi dimana aku bisa meringkuk kesepian dalam kesenangan
dapat merasakan aroma masa lalu dan masa datang berkumpul menjadi satu
makna diri…
kekhawatiran…
rasa iri…
kegagalan…
bukan harapan…
aku hari ini,
dan esok entah apa lagi…

lamunan yang terdalam


senyuman yang membuatku terpana
harapan yang membuatku tersenyum
di sana kau lambaikan penuh pesona
menari di atas kebahagiaan menampak
aku yang di sini rasakan hangatnya pancaran auramu
membuatku semakin mengumbar senyumku untukmu…
anganku membumbung…
tercurah pada puncak perasaan
aku terkulai…
aku trenyuh…
pada kemurnian hadirnya dirimu…